Senin, 29 April 2013

KOPING STRESS



C.    KOPING (COPING) STRESS
Pengertian & Jenis-jenis Koping
Pengertoan coping stress menurut Taylor (dalam Smet, 1994) adalah suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutantuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stressful.
Menurut Lazarus (1996) coping stress adalah upaya kognitif dan tingkah laku untuk mengelola tuntutan internal dan eksternal yang khusus dan konflik diantaranya yang dinilai individu sebagai beban dan melampaui batas kemampuan individu tersebut. Individu akan memberikan reaksi yang berbeda untuk mengatasi stres.
Dewasa ini proses terhadap stres menjadi pedoman untuk membangun coping stress. Secara umum stres dapat diatasi dengan melakukan transaksi dengan lingkungan dimana hubungan transaksi ini merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stres yang menekan dengan melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.
Coping adalah transaksi berseri antara individu yang memiliki satuan sumber daya, nilai, komitmen, dan lingkungan tempat tinggal dengan sumber dayanya sendiri, tuntutan. Coping bukan merupakan suatu tindakan yang dilakukan individu tetapi merupakan kumpulan respon yang terjadi setiap waktu, yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan individu tersebut (Yanny, dkk, 2004).
Reaksi emosional, termasuk kemarahan dan depresi, dapat dianggap sebagai bagian dari proses coping untuk menghadapi suatu tuntutan. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa coping stress merupakan suatu upaya kognitif untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi atau meminimalisasikan suatu siatuasi atau kejadian yang penuh ancaman.
Aspek-aspek coping stress terdiri dari beberapa macam. Coping dapat diidentifikasi melalui respon, manifestasi (tanda dan gejala) dan pernyataan klien dalam wawancara. Menurut Jerabek (1998) ada 7 (tujuh) aspek coping stress, yaitu:
Reactivity to stress (reaksi terhadap stres)
Bagaimana individu bereaksi terhadap stres, atau dapat dikatakan sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi stres. Jerabek (1998) mengatakan bahwa semakin rendah kemampuan seseorang menghadapi stres, maka reaksinya terhadap stres tergolong maladaptif. Sebaliknya, semakin tinggi kemampuan seseorang menghadapi stres, maka reaksinya terhadap stres semakin adaptif.
Ability to assess situation (kemampuan untuk menilai situasi)
Kemampuan untuk menilai situasi yang dimaksud yaitu bagaimana cara individu menanggapi situasi/masalah yang mengancam dirinya. Dimana situasi tersebut dapat terkendali jika individu memiliki kemampuan yang tinggi untuk menilai situasi, dan situasi yang menimpanya akan menimbulkan stres jika individu memiliki kemampuan yang rendah untuk menilai situasi (Jerabek, 1998).
Self-reliance (kepercayaan terhadap diri sendiri)
Self-reliance merupakan kepercayaan individu terhadap dirinya untuk dapat menghadapi/ menyelesaikan situasi atau masalah yang datang kepadanya. Jerabek (1998) menyatakan bahwa, semakin tinggi kepercayaan diri individu dalam menghadapi situasi yang mengancam dirinya, maka ia akan terhindar dari stres. Sebaliknya, semakin rendah kepercayaan diri individu dalam menghadapi situasi yang mengancam, maka ia akan mengalami stres.


Resourcefulness (banyaknya akal daya)
Menurut Jerabek (1998) resourcefulness merupakan daya/ kemampuan individu untuk memikirkan jalan keluar dalam menghadapi situasi/ masalah yang mengancamnya. Semakin tinggi kemampuan individu untuk mencari jalan keluar bagi masalahnya, ia akan terlepas dari stres, namun semakin rendah kemampuan individu untuk mencari jalan keluar bagi masalahnya, ia akan mengalami stres. Salah satu contoh dari aspek ini yaitu : berbagi masalah dengan teman atau orang yang disayangi, mengikuti group therapy.
Adaptability and flexibility (adaptasi dan penyesuaian)
Adaptasi dan penyesuaian individu dalam menghadapi situasi/masalah yang mengancam dirinya juga mempengaruhi tingkat stres seseorang. Jerabek (1998) mengatakan bahwa, semakin tinggi adaptasi dan penyesuaian diri individu terhadap situasi/ masalah yang mengancam, ia akan terhindar dari stres. Sebaliknya, semakin rendah adaptasi dan penyesuaian diri individu terhadap situasi/ masalah yang mengancam, ia akan mengalami stres.
Proactive attitude (sikap proaktif)
Jerabek (1998) menyatakan bahwa individu juga harus berperan aktif dalam menghadapi situasi/ masalah yang mengancam dirinya. jika individu tidak aktif dalam menyeleseaikan masalahnya atau terlalu bergantung kepada orang lain, ia akan mengalami stres. Namun sebaliknya, jika seseorang aktif menghadapi situasi/ masalah yang menancam dirinya, ia akan terlepas dari stres.
Ability to relax (kemampuan untuk relaks)
Jerabek (1998) menyatakan bahwa bersikap santai/ relaks dalam menghadapi masalah, dapat mengurangi tingkat stres seseorang. Semakin tinggi kemampuan individu untuk relaks dalam menghadapi maslaahnya, semakin rendah tingkat stress nya. Namun semakin tegang seseorang menghadapi stres nya, maka tingkat stress nya akan semakin tinggi.




Jenis-Jenis Coping yang Konstruktif dan Positif
a.    Coping yang konstruktif
-       Escape
Usaha untuk menghilangkan stress dengan melarikan diri dari masalah dan beralih pada hal-hal yang tidak baik, seperti merokok, narkoba, dll.
-       Accepteance
Karena tidak ada lagi yang dapat memecahkan masalah, maka lebih memilih pasrah dan menerimanya.
-       Avoidance
Individu berusaha menyanggah dan mengingkari serta melupakan masalah-masalah yang ada pada dirinya.
-       Avoidant coping
Strategi yang dilakukan individu untuk menjauhkan diri dari sumber stress dengan cara melakukan suatu aktivitas atau menarik diri dari suatu kegiatan atau situasi yang berpotensi menimbulkan stress.

b.    Coping yang positif
-       Active coping
Strategi yang dirancang untuk mengubah cara pandang individu terhadap sumber stress.
-       Problem solving focused coping
Individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk mehilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stress.
-       Distancing
Usaha untuk menghindari permasalahan dan menutupinya dengan pandangan yang positif dan menganggap remeh suatu masalah.
-       Planful problem solving
Individu membentuk suatu strategi dan perencanaan menghilangkan dan mengatasi stress dengan melibatkan tindakan yang teliti, hati-hati, bertahap, dan analitis.
-       Positive reappraisal
Usaha untuk mencari makna positif dari permasalahan dengan pengembangan diri dan melibatkan hal-hal religi.
-       Self control
Suatu bentuk dalam penyelesaian masalah dengan cara menahan diri, mengatur perasaan, tidak tergesa-gesa dan hati hati dalam mengambil tindakan.
-       Emotion focused coping
Melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam penyesuaian diri dengan dampak yang ditimbulkan oleh kondisi yang penuh tekanan.
-       Seeking social support
Suatu cara yang dilakukan individu dalam menghadapi maslah dengan cara mencari dukungan sosial pada keluarga atau lingkungan sekitar, berupa simpati atau perhatian.
-       Positive reinterpretation
Respon dari individu dengan cara merubah dan mengembangkan dalam kepribadiannya atau mencoba mengambil pandangan positif dari sebuah masalah.

SUMBER :
Basuki, S. A.M Heru.2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas               
            Gunadarma 
Markam, Suprapti Slamet I.S. Sumarno.2008.Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press).

http://www.psychologymania.com/2012/12/aspek-aspek-coping-stress.html


KOPING STRESS



C.    KOPING (COPING) STRESS
Pengertian & Jenis-jenis Koping
Pengertoan coping stress menurut Taylor (dalam Smet, 1994) adalah suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutantuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stressful.
Menurut Lazarus (1996) coping stress adalah upaya kognitif dan tingkah laku untuk mengelola tuntutan internal dan eksternal yang khusus dan konflik diantaranya yang dinilai individu sebagai beban dan melampaui batas kemampuan individu tersebut. Individu akan memberikan reaksi yang berbeda untuk mengatasi stres.
Dewasa ini proses terhadap stres menjadi pedoman untuk membangun coping stress. Secara umum stres dapat diatasi dengan melakukan transaksi dengan lingkungan dimana hubungan transaksi ini merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stres yang menekan dengan melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.
Coping adalah transaksi berseri antara individu yang memiliki satuan sumber daya, nilai, komitmen, dan lingkungan tempat tinggal dengan sumber dayanya sendiri, tuntutan. Coping bukan merupakan suatu tindakan yang dilakukan individu tetapi merupakan kumpulan respon yang terjadi setiap waktu, yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan individu tersebut (Yanny, dkk, 2004).
Reaksi emosional, termasuk kemarahan dan depresi, dapat dianggap sebagai bagian dari proses coping untuk menghadapi suatu tuntutan. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa coping stress merupakan suatu upaya kognitif untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi atau meminimalisasikan suatu siatuasi atau kejadian yang penuh ancaman.
Aspek-aspek coping stress terdiri dari beberapa macam. Coping dapat diidentifikasi melalui respon, manifestasi (tanda dan gejala) dan pernyataan klien dalam wawancara. Menurut Jerabek (1998) ada 7 (tujuh) aspek coping stress, yaitu:
Reactivity to stress (reaksi terhadap stres)
Bagaimana individu bereaksi terhadap stres, atau dapat dikatakan sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi stres. Jerabek (1998) mengatakan bahwa semakin rendah kemampuan seseorang menghadapi stres, maka reaksinya terhadap stres tergolong maladaptif. Sebaliknya, semakin tinggi kemampuan seseorang menghadapi stres, maka reaksinya terhadap stres semakin adaptif.
Ability to assess situation (kemampuan untuk menilai situasi)
Kemampuan untuk menilai situasi yang dimaksud yaitu bagaimana cara individu menanggapi situasi/masalah yang mengancam dirinya. Dimana situasi tersebut dapat terkendali jika individu memiliki kemampuan yang tinggi untuk menilai situasi, dan situasi yang menimpanya akan menimbulkan stres jika individu memiliki kemampuan yang rendah untuk menilai situasi (Jerabek, 1998).
Self-reliance (kepercayaan terhadap diri sendiri)
Self-reliance merupakan kepercayaan individu terhadap dirinya untuk dapat menghadapi/ menyelesaikan situasi atau masalah yang datang kepadanya. Jerabek (1998) menyatakan bahwa, semakin tinggi kepercayaan diri individu dalam menghadapi situasi yang mengancam dirinya, maka ia akan terhindar dari stres. Sebaliknya, semakin rendah kepercayaan diri individu dalam menghadapi situasi yang mengancam, maka ia akan mengalami stres.


Resourcefulness (banyaknya akal daya)
Menurut Jerabek (1998) resourcefulness merupakan daya/ kemampuan individu untuk memikirkan jalan keluar dalam menghadapi situasi/ masalah yang mengancamnya. Semakin tinggi kemampuan individu untuk mencari jalan keluar bagi masalahnya, ia akan terlepas dari stres, namun semakin rendah kemampuan individu untuk mencari jalan keluar bagi masalahnya, ia akan mengalami stres. Salah satu contoh dari aspek ini yaitu : berbagi masalah dengan teman atau orang yang disayangi, mengikuti group therapy.
Adaptability and flexibility (adaptasi dan penyesuaian)
Adaptasi dan penyesuaian individu dalam menghadapi situasi/masalah yang mengancam dirinya juga mempengaruhi tingkat stres seseorang. Jerabek (1998) mengatakan bahwa, semakin tinggi adaptasi dan penyesuaian diri individu terhadap situasi/ masalah yang mengancam, ia akan terhindar dari stres. Sebaliknya, semakin rendah adaptasi dan penyesuaian diri individu terhadap situasi/ masalah yang mengancam, ia akan mengalami stres.
Proactive attitude (sikap proaktif)
Jerabek (1998) menyatakan bahwa individu juga harus berperan aktif dalam menghadapi situasi/ masalah yang mengancam dirinya. jika individu tidak aktif dalam menyeleseaikan masalahnya atau terlalu bergantung kepada orang lain, ia akan mengalami stres. Namun sebaliknya, jika seseorang aktif menghadapi situasi/ masalah yang menancam dirinya, ia akan terlepas dari stres.
Ability to relax (kemampuan untuk relaks)
Jerabek (1998) menyatakan bahwa bersikap santai/ relaks dalam menghadapi masalah, dapat mengurangi tingkat stres seseorang. Semakin tinggi kemampuan individu untuk relaks dalam menghadapi maslaahnya, semakin rendah tingkat stress nya. Namun semakin tegang seseorang menghadapi stres nya, maka tingkat stress nya akan semakin tinggi.




Jenis-Jenis Coping yang Konstruktif dan Positif
a.    Coping yang konstruktif
-       Escape
Usaha untuk menghilangkan stress dengan melarikan diri dari masalah dan beralih pada hal-hal yang tidak baik, seperti merokok, narkoba, dll.
-       Accepteance
Karena tidak ada lagi yang dapat memecahkan masalah, maka lebih memilih pasrah dan menerimanya.
-       Avoidance
Individu berusaha menyanggah dan mengingkari serta melupakan masalah-masalah yang ada pada dirinya.
-       Avoidant coping
Strategi yang dilakukan individu untuk menjauhkan diri dari sumber stress dengan cara melakukan suatu aktivitas atau menarik diri dari suatu kegiatan atau situasi yang berpotensi menimbulkan stress.

b.    Coping yang positif
-       Active coping
Strategi yang dirancang untuk mengubah cara pandang individu terhadap sumber stress.
-       Problem solving focused coping
Individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk mehilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stress.
-       Distancing
Usaha untuk menghindari permasalahan dan menutupinya dengan pandangan yang positif dan menganggap remeh suatu masalah.
-       Planful problem solving
Individu membentuk suatu strategi dan perencanaan menghilangkan dan mengatasi stress dengan melibatkan tindakan yang teliti, hati-hati, bertahap, dan analitis.
-       Positive reappraisal
Usaha untuk mencari makna positif dari permasalahan dengan pengembangan diri dan melibatkan hal-hal religi.
-       Self control
Suatu bentuk dalam penyelesaian masalah dengan cara menahan diri, mengatur perasaan, tidak tergesa-gesa dan hati hati dalam mengambil tindakan.
-       Emotion focused coping
Melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam penyesuaian diri dengan dampak yang ditimbulkan oleh kondisi yang penuh tekanan.
-       Seeking social support
Suatu cara yang dilakukan individu dalam menghadapi maslah dengan cara mencari dukungan sosial pada keluarga atau lingkungan sekitar, berupa simpati atau perhatian.
-       Positive reinterpretation
Respon dari individu dengan cara merubah dan mengembangkan dalam kepribadiannya atau mencoba mengambil pandangan positif dari sebuah masalah.

SUMBER :
Basuki, S. A.M Heru.2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas               
            Gunadarma 
Markam, Suprapti Slamet I.S. Sumarno.2008.Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press).

http://www.psychologymania.com/2012/12/aspek-aspek-coping-stress.html